| |

MINDSET GROW: CARA UMKM BERTAHAN DI TENGAH BADAI GLOBAL

Ketika kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat mengguncang pasar global pada awal 2025, diikuti eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi Tiongkok, dampaknya mungkin terasa seperti urusan para diplomat dan ekonom. Namun, bagi pengusaha konveksi yang bergantung pada benang impor, pembuat keripik tempe yang mengandalkan kedelai dari luar negeri, atau pengusaha kuliner yang bergantung pada kemasan plastik impor/luar negeri, gejolak itu bukan berita, melainkan kenyataan di rak belanjaan dan buku kas harian.

Inilah wajah nyata ekonomi global yang saling terhubung, tetapi juga saling rentan. Krisis datang berlapis dan saling memperkuat. Berawal dari tekanan tarif dagang: Indonesia dikenai tarif resiprokal 32% karena defisit dagang dengan AS sebesar USD 17.883 juta (peringkat ke-15). Negosiasi bilateral pada Februari 2026 berhasil menurunkan tarif, tetapi ketidakpastian masih membayangi. Ekspor utama seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, dan pertanian—senilai USD 6,5 miliar atau lebih dari 20% dari total ekspor ke AS—terkena dampak langsung.

Gangguan rantai pasok global pun tak terhindari, memaksa perusahaan multinasional mengevaluasi lokasi produksi. UMKM yang bergantung pada bahan baku impor mengalami keterlambatan dan harga yang tidak dapat diprediksi. Di dalam negeri, harga kebutuhan pokok naik rata-rata 5% dalam enam bulan pertama 2025.

Puncaknya pada April 2026, harga plastik melonjak 70%, menghantam sektor makanan, minuman, dan kemasan. Sisi pembiayaan juga terbatas: Bank Indonesia mencatat bahwa persyaratan kredit UMKM masih diperketat akibat tingginya risiko kredit. Yang paling terasa, daya beli melemah karena inflasi pangan di atas 5% menekan upah riil. Ditambah lagi, pertumbuhan ekonomi global pada 2025 hanya 2,1%. Bagi UMKM Indonesia, ini tekanan nyata setiap hari.

Tangguh dengan GROW Mindset

Sejarah membuktikan: UMKM Indonesia bukan korban pasif, melainkan aktor tangguh yang bertahan saat korporasi besar tumbang pada 1998, bangkit dari krisis global 2008, dan beradaptasi di tengah pandemi yang melumpuhkan tatanan ekonomi dunia. Ketika biaya logistik melonjak, perilaku belanja berubah drastis, dan rantai pasok global tersendat, mereka meresponsnya dengan beralih ke bahan baku lokal, berekspansi ke platform digital, atau membentuk konsorsium lintas industri. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi “apakah UMKM bisa bertahan?”, melainkan “apa yang membedakan UMKM yang bertransformasi?” Jawabannya bukan sekadar strategi teknis, melainkan fondasi cara berpikir: GROW Mindset.

Grit — ketekunan yang tidak bergantung pada kondisi ideal. Bukan keras kepala, melainkan konsistensi yang berakar pada tujuan di luar keuntungan semata. Dalam krisis, grit membuat pelaku usaha tetap bergerak meski semua kalkulasi rasional mengatakan “berhenti”.

Resilience Mindset — Kemampuan memaknai krisis sebagai proses belajar, bukan sebagai akhir. Pelaku usaha dengan pola pikir ini tidak terjebak dalam pertanyaan “mengapa ini terjadi pada saya?”, tetapi segera bertransisi ke “apa yang bisa saya pelajari dan langkah apa selanjutnya?” Inilah yang membuat mereka lebih cepat menemukan celah solusi di tengah tekanan.

Opportunity Orientation — Kemampuan membaca peluang di balik gangguan. Ketika tarif resiprokal menekan ekspor ke AS, peluang diversifikasi pasar ke Asia Selatan, Afrika, atau pendalaman pasar domestik justru terbuka. Substitusi impor bukan sekadar wacana, melainkan peluang nyata bagi UMKM untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing.

Win-Together — Dimensi kolektif yang paling sering dilupakan. Di tengah krisis, bertahan sendirian menjadi semakin sulit dan tidak efisien. Kolaborasi—dengan sesama UMKM, komunitas, koperasi, startup, hingga korporasi—terbukti membuka akses ke modal, pasar, dan pengetahuan baru. Ini bukan pilihan etis semata, melainkan strategi bisnis yang rasional dan adaptif. Dengan GROW Mindset, ketangguhan UMKM bukan sekadar cerita tentang bertahan, melainkan narasi transformasi yang berkelanjutan.

Ekosistem adalah Prasyarat

Namun, mindset yang kuat tidak bekerja dalam ruang hampa. UMKM bergantung pada ekosistem—dan ekosistem bergantung pada kolaborasi lintas aktor. Di sinilah model pentahelix menjadi relevan: pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media harus bergerak bersama, bukan saling bergantian.

Untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, diperlukan kebijakan yang mendukung inovasi, investasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia—serta kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sebagai kunci untuk menghadapi tantangan ini.

Krisis global hari ini adalah ujian sekaligus cermin. Ia memperlihatkan dengan jelas bahwa ketahanan UMKM tidak bisa dibangun hanya saat dibutuhkan. Ia harus dirawat sejak awal—melalui diversifikasi usaha, efisiensi operasional, digitalisasi yang bermakna, dan yang paling mendasar: perubahan cara berpikir.

Pengusaha UMKM yang mampu menggabungkan GROW Mindset dengan dukungan ekosistem yang kuat bukan hanya akan bertahan dari badai—mereka akan keluar darinya dengan kapasitas yang lebih besar daripada sebelumnya. Di tengah badai global, kita mungkin tidak bisa mengendalikan arah angin. Tetapi kita bisa menyesuaikan layar.

Dan bagi UMKM Indonesia—yang telah berulang kali membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar penyangga statistik—saatnya beralih dari bertahan menjadi bertransformasi: dengan kesadaran baru bahwa ketangguhan sejati bukan hanya soal kekuatan modal, melainkan juga tentang cara berpikir, kemampuan beradaptasi, dan keberanian untuk tumbuh bersama.

Oleh: Bahrul Ulum Ilham Ketua Umum DPN ABDSI 

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *